Ini Sejarah dan Cerita Julukan Unik Manajer-Manajer Top Liga Inggris

Premier League merupakan kompetisi dengan manajer-manajer hebat terlibat di dalamnya. Semua klub baik dari klub elite maupun klub medioker menggunakan jasa mereka agar bisa bersaing di papan klasemen.

Menariknya, setiap pelatih memiliki julukan masing-masing. Sepakbola.com menampilkan lima manajer yang sudah memiliki julukan melekat di pikiran. Seperti Arsene Wenger yang dijuluki The Professor atau Jose Mourinho dengan The Special One-nya.

Sebenarnya kenapa mereka mendapat julukan-julukan tersebut? Cari tahu jawabannya di bawah ini

Arsene Wenger – The Professor

Wenger mendapat julukan The Professor sejak mengantarkan Arsenal meraih banyak prestasi. Pelatih asal Perancis ini dikenal memiliki banyak strategi jitu yang membuat Arsenal konsisten menjadi klub papan atas Inggris.

Julukan ini juga tak lepas dari berbagai pencapaian akademik yang pernah ia dapat. Wenger dikenal sebagai seorang master ekonomi dan sarjana elektro di sebuah universitas di Strasbourg, Perancis. Selain itu ia juga fasih dalam beberapa bahasa di antaranya Perancis, Inggris, Jerman, Italia, Spanyol dan Jepang.

Masih belum cukup? Ia juga mendapat gelar kehormatan Officer of the Most Excellent Order of the British Empire (OBE) dan masuk di English Football Hall of Fame sebagai orang yang sangat berjasa memberi kesuksesan klubnya.

Dan yang terakhir, karena kejeniusannya, Wenger dapat mencetak banyak pemain muda dari akademi sepak bola Arsenal. Saat ini akademi sepak bola Arsenal diketahui mencetak banyak pemain-pemain terkenal seperti Ashley Cole, Gael Clichy, Jack Wilshere, Alex Song, Nickals Bendtner, Ray Parlour, Paul Merson, Tony Adams.

Jose Mourinho – The Special One

Julukan ini melekat pada Jose Mourinho bermula dari klaimnya sendiri ketika datang pertama kali ke Liga Inggris pada 2004 dari Porto. Ketika itu berbicara dalam konferensi pers, Mourinho berkata: “Jangan sebut aku arogan, tapi aku adalah juara Eropa dan aku pikir aku adalah seorang yang spesial (The Special one).”

Kalimat itu kemudian dikutip media dan melekat sebagai julukan Mourinho. Klaim Mourimho cukup beralasan karena ia berhasil meraih trofi di empat negara yang sudah ia sambangi, Inggris, Spanyol, Italia dan Portugal. Dalam satu dekade terakhir, Mourinho selalu sukses mengangkat trofi kemenangan. Sejauh ini sekitar 20 trofi yang berhasil dimenangkan oleh Mourinho.

Hal ini juga semakin terasa istimewa karena Mourinho mampu berkomunikasi dengan enam bahas berbeda yaitu Portugis, Inggis, Spanyol, Catalan, Italia, dan Prancis.

Claudio Ranieri – The Tinkerman

Julukan The Tinkerman yang diterima Ranieri sebenarnya bukan sebuah pujian melainkan sindiran karena ia kerap merotasi pemain yang tak berbuah solusi. Julukan The Tinkerman diperoleh Ranieri tatkala menukangi Chelsea medio 18 September 2000 sampai 30 Mei 2004. Sematan The Tinkerman mulai diberikan pada pewarta tepatnya pada musim 2002-2003.

Jurgen Klopp – The Normal One

Dibandingkan Mourinho yang dijuluki The Special One saat pertama kali datang ke Liverpool, mantan pelatih Borussia Dortmund ini menjawab pertanyaan jurnalis dan memilih merendah dan menyebut dirinya sebagai The Normal One. Kenapa? “Saya adalah orang yang normal. Saya The Normal One. Namun Liverpool bukanlah klub yang normal, ini adalah klub yang spesial dan merupakan langkah yang tepat di karir saya,” kata Klopp dilansir Liverpool Echo.

“Saya seorang yang romantis di sepak bola. Saya suka dengan semua kisah dan sejarah mengenai sebuah klub. Dan Anfield adalah salah satu tempat terbaik di sejarah sepak bola. Semua orang di Liverpool semua menyukai sepak bola. Menangani Liverpool adalah penghargaan terbesar yang bisa saya bayangkan,” lanjutnya lagi.

Antonio Conte – The Godfather

Julukan The Godfather disematkan kepada Conte dari ide pemain tim nasional Italia. Leonardo Bonucci, bek timnas Italia sekaligus Juventus mengungkapkan kalau Conte dijuluki nama tersebut karena para pemain tak boleh membantahnya. “Anda melakukan apa yang dia katakan, dan anda tidak membantah. Untuk itu kami menamainya The Godfather,” ujar Bonucci.

Exit mobile version