Liverpool Diramalkan Selalu Sulit Jadi Juara Premier League, Kenapa?

Liverpool, dikabarkan Sky Sports, Rabu (25/1/2017), selalu mengalami periode sulit pada Januari dalam upaya mereka memperebutkan gelar juara Premier League. Musim 2016-2017 bahkan berpotensi menjadi periode terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan The Reds sejak musim 1992-1993.

Pada Januari 2017, Liverpool hanya meraih satu kemenangan, itu pun melawan klub kasta ketiga Liga Inggris, Playmouth Argyle, di ajang Piala Liga Inggris. Selebihnya, dari total enam laga, Liverpool meraih tiga hasil imbang dan menelan tiga kekalahan.

Teranyar, mereka takluk 2-3 dari Swansea City, di Anfield, Sabtu (21/1/2017). Di ajang Premier League, beberapa hasil minor ini membuat peringkat Liverpool, yang sebelumnya bersaing ketat dengan Chelsea di posisi kedua dan pertama, merosot ke posisi keempat.

Dari total 22 pertandingan pada musim 2016-2017, skuat asuhan Jurgen Kloppl mengoleksi 45 poin, terpaut 10 angka dari Chelsea yang menempati posisi pertama klasemen sementara Premier League.

Namun, catatan buruk ini bukan kali pertama yang pernah Liverpool alami. Menurut catatan Sky Sports, sejak musim 1992-1993, Liverpool selalu mengalami situasi sulit ketika memulai tahun baru. Berikut ini adalah penjelasannya:

1. Bulan terburuk

Sejak era Premier League, rata-rata persentase kemenangan Liverpool pada periode Januari di berbagai ajang sebesar 45 persen. Pada musim ini, Liverpool bahkan hanya mencatat 16,7 persen kemenangan. Namun, mereka masih menyisakan dua laga lagi melawan Southampton (Piala Liga Inggris) dan Wolverhampton (Piala FA).

Mengacu terhadap catatan periode Januari hingga Agustus pada musim 2016-2017, pencapaian terbaik The Reds terjadi pada Oktober 2016 setelah mereka mencatat 80 persen kemenangan, kemudian November (75 persen), dan Desember (66,7 persen).

Lantas apa alasan logis di balik penurunan performa Liverpool pada Januari 2017? Sky Sports memprediksi, ketidakhadiran Sadio Mane, yang saat ini sedang membela tim nasional Senegal di ajang Piala Afrika, serta cedera Philippe Coutinho menjadi penyebab utama.

Pada musim ini, Sadio Mane telah menyumbang sembilan gol dan tujuh assist dari 19 pertandingan Liverpool di ajang Premier League, sementara Philippe Coutinho mencetak enam gol dan tujuh assist dari 15 laga.

Selain itu, gaya melatih Jurgen Klopp yang dikenal memiliki selalu mengandalkan intensitas para pemainnya juga ditengarai menjadi faktor lainnya. Hal itu membuat kondisi para pemain kunci Liverpool banyak terkuras pada periode Boxing Day 2016

2. Apa yang bakal terjadi pada Mei?

Dengan tren menurun pada periode akhir tahun, Liverpool tentu beberapa kali kesulitan untuk menutup musim dengan baik. Periode Mei pun menjadi bulan kedua terburuk setelah Januari yang selalu dialami Liverpool sejak 1993. Mereka hanya meraih rata-rata kemenangan 46,2 persen pada periode tersebut.

Salah satu contoh teranyar bisa dilihat dari kejadian pada musim 2013-2014 ketika Liverpool diprediksi menjadi calon kuat juara Premier League. Namun, nyatanya, kekalahan 0-2 dari Chelsea pada 27 April membuat mimpi mereka menjadi juara terbuang sia-sia.

Menurut catatan Sky Sports, Liverpool kerap meraih catatan minor pada periode Mei pada musim 1993-1994, 1994-1995, 1995-1996, 1996-1997, 1999-2000, 2002-2003, 2006-2007, 2009-2012, dan 2011-2012.

3. Periode terbaik?

Periode terbaik Liverpool dalam hal persentase rata-rata kemenangan sejak era Premier League adalah periode Maret (58,4 persen). Setelah itu, Agustus berada di peringkat kedua (58,2 persen), diikuti Oktober (54,1 persen), April (51,4 persen), dan Desember (51,2 persen). Catatan lainnya adalah Liverpol mampu memenangi empat pertandingan mereka pada periode Juli yang biasanya menjadi awal perjalanan mereka mengarungi musim baru. Pada 2005, Liverpool meraih tiga kemenangan, sisanya terjadi pada 2010 saat mereka tampil di ajang Kualifikasi Liga Champions dan Liga Europa.

Exit mobile version